Ibu, kau adalah orang yang mampu membawa berat anakmu ini dalam kandunganmu selama 9 bulan, menahan perih saat kau mencoba mengeluarkan aku ke dunia yang palsu ini, merawat aku sampai aku sebesar ini, membahagiakan aku semampumu, hingga kau banting tulang demi mencukupi gizi anakmu ini.Ibu, kau adalah sosok yang perkasa bagiku, kau adalah teman disaat aku butuh teman cerita, kau adalah guru di saat aku tak mengerti akan semua yang terjadi di dunia yang palsu ini, kau adalah mentor disaat aku sedang terpuruk karena keadaan, kau adalah segalanya bagiku, Ibu, tak ada kata yang mampu ku tuliskan untuk menggambarkan besarnya kasih sayangmu untukku, kasihmu tak kan mampu terbalaskan olehku meski sampai aku memhabiskan masa hidupku di dunia ini, semua yang kau berikan untuk anakmu ini lebih besar dari alam semesta ini.Ibu, di hari ibu ini aku hanya bisa menuliskan sebuah kata sederhana untukmu, kata yang menggambar betapa aku sangat menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini, maafkan anakmu ini yang selalu mengecewakanmu, selalu membuatmu sedih atasa semua perbuatan dan kebodohanku selama ini, anakmu ini hanya bisa mendo'akanmu selalu dalam setiap do'aku, supaya engkau selalu panjang umur, selalu diberikan kedamaian dalam hidupmu, selalu ceria dalam setiap harimu, selalu menyayangi anakmu ini sampai kapanpun.Ibu, kau adalah segalanya bagiku,Happy Mom's Day Ibuku, I Love U So Much .
Semarang, 22 Desember 2011
Anakmu,
Taufiq Hidayat.
Selasa, 10 Januari 2012
Selasa, 13 Desember 2011
Mahasiswa Unissula Aksi Menuntut Ke Polda Jateng atas Tindak Represif Aparat
SEMARANG, KOMPAS.com -
Ratusan mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) mendatangi Kantor Kepolisian Daerah Jawa Tengah di Kota Semarang, Selasa (13/12/2011). Mereka berunjuk rasa menuntut polisi meminta maaf atas aksi kekerasan, saat peringatan Hari Antikorupsi pada 9 Desember lalu.
Aksi tersebut merupakan buntut dari sejumlah polisi yang diduga melakukan kekerasan terhadap mahasiswa Unissula, antara lain Habib Hidayat, Tefur Rohman, Ali Subkhan, Khoirul Anwar, dan Kiwil.
Menurut versi mahasiswa, pada saat akan berjalan menuju Kantor DPRD Jateng mereka dihadang polisi yang lalu membubarkan aksi unjuk rasa tersebut.
Peristiwa terjadi bersamaan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Hari Antikorupsi di Masjid Agung, Semarang, Jawa Tengah.
Kedatangan Presiden di Kota Semarang mengharuskan aparat keamanan mensterilkan sejumlah lokasi, seperti Kantor DPRD Jateng, yang menjadi lokasi unjuk rasa mahasiswa.
Dalam aksi unjuk rasa hari ini, para mahasiswa berteriak agar polisi yang diwakili Kaploda Jateng, meminta maaf atas peristiwa kekerasan itu.
Ratusan mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) mendatangi Kantor Kepolisian Daerah Jawa Tengah di Kota Semarang, Selasa (13/12/2011). Mereka berunjuk rasa menuntut polisi meminta maaf atas aksi kekerasan, saat peringatan Hari Antikorupsi pada 9 Desember lalu.
Aksi tersebut merupakan buntut dari sejumlah polisi yang diduga melakukan kekerasan terhadap mahasiswa Unissula, antara lain Habib Hidayat, Tefur Rohman, Ali Subkhan, Khoirul Anwar, dan Kiwil.
Menurut versi mahasiswa, pada saat akan berjalan menuju Kantor DPRD Jateng mereka dihadang polisi yang lalu membubarkan aksi unjuk rasa tersebut.
Peristiwa terjadi bersamaan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Hari Antikorupsi di Masjid Agung, Semarang, Jawa Tengah.
Kedatangan Presiden di Kota Semarang mengharuskan aparat keamanan mensterilkan sejumlah lokasi, seperti Kantor DPRD Jateng, yang menjadi lokasi unjuk rasa mahasiswa.
Dalam aksi unjuk rasa hari ini, para mahasiswa berteriak agar polisi yang diwakili Kaploda Jateng, meminta maaf atas peristiwa kekerasan itu.
Senin, 30 Mei 2011
Mahasiswa Protes Keputusan ASEAN Summit
SEMARANG, KOMPAS.com — Para mahasiswa menilai, Indonesia sedang masuk perangkap liberalisasi dunia. Keputusan Indonesia dalam ASEAN Summit sudah jelas, yakni liberalisasi perdagangan barang, liberalisasi sektor keuangan dan investasi, serta liberalisasi perdagangan jasa dan tenaga kerja.
Demikian diungkapkan Soli Irmanto, koordinator aksi unjuk rasa mahasiswa, yang memprotes pelaksanaan ASEAN Summit. Setidaknya 50 aktivis dari serikat mahasiswa Indonesia itu menggelar unjuk rasa di bundaran Universitas Diponegoro, Senin (30/5/2011), untuk memprotes komersialisasi pendidikan sebagai konsekuensi keputusan ASEAN Summit.
"Dunia pendidikan tak bisa lepas dari keputusan itu. Karenanya, kami mendesak pemerintah untuk merealisasikan pendidikan gratis dari TK hingga perguruan tinggi," kata Soli.
Selain pendidikan gratis, pemerintah harus memiliki niat baik untuk menghapus komersialisasi pendidikan. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah menghapus undang-undang sistem pendidikan nasional.
"Dengan kondisi sekarang ini dipastikan bahwa ada upaya pemiskinan secara permanen sebab orang-orang miskin tak lagi bisa sekolah atau menempuh pendidikan berkualitas," tambah Soli.
Demikian diungkapkan Soli Irmanto, koordinator aksi unjuk rasa mahasiswa, yang memprotes pelaksanaan ASEAN Summit. Setidaknya 50 aktivis dari serikat mahasiswa Indonesia itu menggelar unjuk rasa di bundaran Universitas Diponegoro, Senin (30/5/2011), untuk memprotes komersialisasi pendidikan sebagai konsekuensi keputusan ASEAN Summit.
"Dunia pendidikan tak bisa lepas dari keputusan itu. Karenanya, kami mendesak pemerintah untuk merealisasikan pendidikan gratis dari TK hingga perguruan tinggi," kata Soli.
Selain pendidikan gratis, pemerintah harus memiliki niat baik untuk menghapus komersialisasi pendidikan. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah menghapus undang-undang sistem pendidikan nasional.
"Dengan kondisi sekarang ini dipastikan bahwa ada upaya pemiskinan secara permanen sebab orang-orang miskin tak lagi bisa sekolah atau menempuh pendidikan berkualitas," tambah Soli.
Langganan:
Postingan (Atom)