Jumat, 06 April 2012

KEMISKINAN DI INDONESIA


Kemiskinan adalah kata-kata yang sudah lekat bagi bangsa ini.  Kemiskinan menjadi salah satu masalah di Indonesia sejak dulu hingga sekarang apalagi sejak terhempas dengan pukulah krisis ekonomi dan moneter yang terjadi sejak tahun 1997. Kemiskinan sering kali dipahami sebagai gejala rendahnya tingkat kesejahteraan semata padahal kemiskinan merupakan gejala yang kompleks dan multidimensi. Rendahnya tingkat kehidupan yang sering sebagai alat ukur kemiskinan pada hakikatnya merupakan salah satu mata rantai dari munculnya lingkaran kemiskinan.
Dalam UUD ’45 Pasal 34 yang berbunyi Fakir Miskin dan anak - anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. Sedangkan kenyataannya pemerintah tidak pernah peduli dengan nasib rakyatnya. Mari kita dalami apa yang menjadi masalah kemiskinan di Negara kita ini.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) Kemiskinan adalah kemiskinan dengan membuat kriteria besaranya pengeluaran per orang per hari sebagai bahan acuan. Dalam konteks itu, pengangguran dan rendahnya penghasilan menjadi pertimbangan untuk penentuan kriteris tersebut. Kriteria statistik BPS tersebut adalah: Pertama, Tidak miskin , adalah mereka yang pengeluaran per orang per bulan lebih dari Rp 350.610. Kedua, Hampir tidak miskin dengan pengeluaran per bulan per kepala antara  Rp 280.488.s/d. – Rp 350.610.- atau sekitar antara Rp 9.350 s/d. Rp11.687.- per orang per hari. Jumlanya mencapai 27,12 juta jiwa. Ketiga, Hampir miskin dengan pengeluaran per bulan per kepala antara Rp 233.740.- s/d  Rp 280.488.- atau sekitar antara Rp 7.780.- s/d Rp 9.350.- per orang per hari. Jumlahnya mencapai  30,02 juta. Keempat, Miskin dengan pengeluaran per orang perbulan  per kepala Rp 233.740.-kebawah atau sekitar Rp 7.780.- kebawah per orang per hari. Jumlahnya mencapai 31 juta. Kelima, Sangat miskin (kronis) tidak  ada kriteria berapa pengeluaran per orang per hari. Tidak diketahui dengan pasti berapa jumlas pastinya. Namun, diperkirakan mencapai sekitar 15 juta .
Berdasarkan kriteria kemiskinan yang dilansir oleh BPS tersebut menunjukan jumlah keluarga miskin di Indonesia cukup besar. Total jumlah penduduk Indonesia kalau dihitung dengan kriteria pengeluaran per orang hari Rp 11.687.- kebawah , mencapai sekitar 103,14 juta jiwa. Angka kemiskinan tersebut tentu sangat besar untuk ukuran Negara kaya sumber daya alam seperti Indonesia. Namun, hal tersebut tak membantu masyarakat mengatasi kekurangannya.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan.
§  Kesempatan kerja
Sulitnya mencari pekerjaan seperti yang terjadi di kota-kota besar maupun di pedesaan bisa menjadi faktor terjadinya kemiskinan, sebagai contoh orang akan mengadu nasib di Ibukota karena dianggap mereka akan mendapat pekerjaan yang enak dengan gaji besar di Ibukota tetapi ini akan menjadi masalah baru bila lowongan pekerjaan itu sulit.
§  Tingkat inflasi
Tingkat inflasi suatu negara juga berpengaruh pada timbulnya kemiskinan, inflasi akan mempengaruhi pendapatan dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi PHK bila suatu perusahaan terkena dampak dari inflasi yang terjadi
§  Pajak dan subsidi
Pajak yang tinggi disuatu negara akan mempengaruhi tingkat pendapat dan ini berimpas pada pendapat seseorang. Subsidi yang diberikan pemerintah akan menjadi masalah bila subsidi itu salah sasaran, bisa dilihat dari keadaan saat ini saat subsidi BBM akan di cabut, ini akan perpengaruh pada masyarakat yang dikategorikan sebagai rakyat miskin.
§  Ketersediaan fasilitas umum
Masalah ini biasanya terjadi di masyarakat pedesaan, dimana fasilitas untuk meningkatkan pendapatan sulit dicari.
§  Tingkat dan jenis pendidikan
Kualitas manusia salah satunya dilihat dari tingkat pendidikan. Manusia yang
sekarang banyak dicari oleh lapangan-lapangan kerja adalah manusia yang
memiliki pendidikan yang rata-rata tinggi. Jadi apabila tingkat pedidikan suatu
penduduk rendah, maka kualitas penduduk itu rendah.
§  Kondisi fisik dan alam
Kondisi fisik yang dimaksud disini adalah kondisi fisik yang sejak lahir di terima oleh seseorang atau setelah orang itu lahir, contohnya keterbelakangan mental, cacat fiisk bawaan lahir, atau cacat fisik karena suatu kecelakaan
Kondisi suatu wilayah itu relatif berbeda. Wilayah yang memiliki keadaan alam
yang serba memadahi,menjadikan masyarakatnya terpenuhi kebutuhannya.
Namun jika suatu wilayah memiliki kondisi alam yang kurang mendukung,seperti
kurangnya air, atau kondisi tanah yang kurang mendukung, juga mempengaruhi
taraf hidup masyarakat.
§  Bencana alam
Bencana alam mengambil peran besar dalam factor penyebab ini, tapi manusia tidak dapat mengelak dari rencan Tuhan ini.
§  Peperangan
Peperangan yang terjadi akan menimbulkan banyak dampak salah satunya kemiskinan.
Dari beberapa faktor-faktor diatas dapat diketahui kemiskinan itu bukan karena faktor takdir, sering  kebanyakan orang menilai bahwa kemiskinan itu suatu takdir atau hadiah dari Tuhan. Persepsi ini adalah persepsi yang salah kemiskinan itu dikarenakan beberapa faktor diatas.
Ada tiga ciri kemiskinan yang menonjol di indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang berada disekitar garis kemiskinan nasional, sehingga banyak penduduk yang meskipun tidak tergolong miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan sehingga tidak mengambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang tidak tergolong miskin dari segi pendapatan dapat dikatagorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di indonesia.
Dampak Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata. 
Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknya pembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saing bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalam konteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan.
Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].
Kedua, kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
Ketiga, pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. 
Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan "pemiskinan struktural" terhadap rakyatnya. 
Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
Keempat, kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
Kelima, konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan "keamanan" dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif. 
Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan. 
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.
Kesimpulannya, Kemiskinan timbul dikarenakan beberapa faktor : kesempatan kerja, tingkat inflasi, pajak dan subsidi, ketersediaan fasilitas umum, tingkat dan jenis pendidikan, kondisi fisik dan alam, bencana alam dan peperangan.
Dampak yang ditimbulkan dari kemiskinan adalah  Penganguran, Kekerasan, Pendidikan, Kesehatan, dan konflik sosial bernuansa SARA.

DAFTAR PUSTAKA